Laman

Rabu, 03 November 2010

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru


peta-bromo-tengger-semeru

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru memiliki tipe ekosistem sub-montana, montana dan sub-alphin dengan pohon-pohon yang besar dan berusia ratusan tahun.

Beberapa jenis tumbuhan yang terdapat di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru antara lain jamuju (Dacrycarpus imbricatus), cemara gunung (Casuarina sp.), eidelweis (Anaphalis javanica), berbagai jenis anggrek dan jenis rumput langka (Styphelia pungieus).

Terdapat sekitar 137 jenis burung, 22 jenis mamalia dan 4 jenis reptilia di taman nasional ini

Satwa langka dan dilindungi yang terdapat di taman nasional ini antara lain luwak (Pardofelis marmorata), rusa (Cervus timorensis ), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), kijang (Muntiacus muntjak ), ayam hutan merah (Gallus gallus), macan tutul (Panthera pardus ), ajag (Cuon alpinus ); dan berbagai jenis burung seperti alap-alap burung (Accipiter virgatus ), rangkong (Buceros rhinoceros silvestris), elang ular bido (Spilornis cheela bido), srigunting hitam (Dicrurus macrocercus), elang bondol (Haliastur indus), dan belibis yang hidup di Ranu Pani, Ranu Regulo, dan Ranu Kumbolo.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru merupakan satu-satunya kawasan konservasi di Indonesia yang memiliki keunikan berupa laut pasir seluas 5.250 hektar, yang berada pada ketinggian ± 2.100 meter dari permukaan laut.

Di laut pasir ditemukan tujuh buah pusat letusan dalam dua jalur yang silang-menyilang yaitu dari timur-barat dan timur laut-barat daya. Dari timur laut-barat daya inilah muncul Gunung Bromo yang termasuk gunung api aktif yang sewaktu-waktu dapat mengeluarkan asap letusan dan mengancam kehidupan manusia di sekitarnya (± 3.500 jiwa).

Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

Suku Tengger yang berada di sekitar taman nasional merupakan suku asli yang beragama Hindu. Menurut legenda, asal-usul suku tersebut dari Kerajaan Majapahit yang mengasingkan diri. Uniknya, melihat penduduk di sekitar (Su-ku Tengger) tampak tidak ada rasa ketakutan walaupun menge-tahui Gunung Bromo itu berbaha-ya, termasuk juga wisatawan yang banyak mengunjungi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada saat Upacara Kasodo.

Letupan volkanik di puncak Gunung Semeru

Letupan volkanik di puncak Gunung Semeru

Upacara Kasodo diselenggarakan setiap tahun (Desember/Januari) pada bulan purnama. Melalui upacara tersebut, masyarakat Suku Tengger memohon panen yang berlimpah atau meminta tolak bala dan kesembuhan atas berbagai penyakit, yaitu dengan cara mempersembahkan sesaji dengan melemparkannya ke kawah Gunung Bromo, sementara masyarakat Tengger lainnya harus menuruni tebing kawah dan meraih untuk menangkap sesaji yang dilemparkan ke dalam kawah, sebagai perlambang berkah dari Yang Maha Kuasa.

Perebutan sesaji tersebut merupakan atraksi yang sangat menarik dan menantang sekaligus mengerikan. Sebab tidak jarang diantara mereka jatuh ke dalam kawah.

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Cemorolawang. Salah satu pintu masuk menuju taman nasional yang banyak dikunjungi untuk melihat dari kejauhan hamparan laut pasir dan kawah Bromo, dan berkemah.
Laut Pasir Tengger dan Gunung Bromo. Berkuda dan mendaki gunung Bromo melalui tangga dan melihat matahari terbit.
Pananjakan. Melihat panorama alam gunung Bromo, gunung Batok dan gunung Semeru.
Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo dan Puncak Gunung Semeru. Danau-danau yang sangat dingin dan selalu berkabut (± 2.200 m. dpl) sering digunakan sebagai tempat transit pendaki Gunung Semeru (3.676 m. dpl).
Ranu Darungan. Berkemah, pengamatan satwa/ tumbuhan dan panorama alam yang menawan.

Musim kunjungan terbaik: bulan Juni s/d Oktober dan bulan Desember s/d Januari.
Cara pencapaian lokasi: Pasuruan-Warung Dowo-Tosari-Wonokitri-Gunung Bromo menggunakan mobil dengan jarak 71 km, Malang-Tumpang-Gubuk Klakah-Jemplang-Gunung Bromo menggunakan mobil dengan jarak 53 km, dan Jemplang-Ranu Pani-Ranu Kumbolo, 16 km. Atau dari Malang-Purwodadi-Nongkojajar-Tosari-Wonokitri-Penanjakan sekitar 83 km. Dari Malang ke Ranu Pani menggunakan mobil sekitar 70 menit, yang dilanjutkan berjalan kaki ke Puncak Semeru sekitar 13 jam.

Panorama pagi di Pananjakan

Panorama pagi di Pananjakan

Kantor : Jl. Raden Intan No. 6 Kotak Pos 54, Malang Telp. (0341) 491828; Fax. (0341) 490885
Jl. Panda No. 8, Malang Telp. (0341) 551040
E-mail:
tn-bromo@malang.wasantara.net.id

Dinyatakan Menteri Pertanian, tahun 1982
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 278/Kpts-VI/97 dengan luas 50.276,2 hektar
Ditetapkan —-
Letak Kab. Pasuruan, Kab. Probolinggo, Kab.
Lumajang, dan Kab. Malang, Provinsi
Jawa Timur
Temperatur udara 3° – 20° C
Curah hujan Rata-rata 6.600 mm/tahun
Ketinggian tempat 750 – 3.676 m. dpl
Letak geografis 7°51’ – 8°11’ LS, 112°47’ – 113°10’ BT


SUMBER : POTLOT ADVENTURE

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango


Peta Gede Panfrango

Peta Gede Panfrango

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kalinya diumumkan di Indonesia pada tahun 1980. Keadaan alamnya yang khas dan unik, menjadikan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango sebagai salah satu laboratorium alam yang menarik minat para peneliti sejak lama.

Tercatat pada tahun 1819, C.G.C. Reinwardt sebagai orang yang pertama yang mendaki Gunung Gede, kemudian disusul oleh F.W. Junghuhn (1839-1861), J.E. Teysmann (1839), A.R. Wallace (1861), S.H. Koorders (1890), M. Treub (1891), W.M. van Leeuen (1911); dan C.G.G.J. van Steenis (1920-1952) telah membuat koleksi tumbuhan sebagai dasar penyusunan buku “THE MOUNTAIN FLORA OF JAVA” yang diterbitkan tahun 1972.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango memiliki keanekaragaman ekosistem yang terdiri dari ekosistem sub-montana, montana, sub-alpin, danau, rawa, dan savana.

Ekosistem sub-montana dicirikan oleh banyaknya pohon-pohon yang besar dan tinggi seperti jamuju (Dacrycarpus imbricatus), dan puspa (Schima walliichii). Sedangkan ekosistem sub-alphin dicirikan oleh adanya dataran yang ditumbuhi rumput Isachne pangerangensis, bunga eidelweis (Anaphalis javanica), violet (Viola pilosa), dan cantigi (Vaccinium varingiaefolium).

Satwa primata yang terancam punah dan terdapat di Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango yaitu owa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata comata), dan lutung budeng (Trachypithecus auratus auratus); dan satwa langka lainnya seperti macan tutul (Panthera pardus melas), landak Jawa (Hystrix brachyura brachyura), kijang (Muntiacus muntjak muntjak), dan musang tenggorokan kuning (Martes flavigula).

Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango terkenal kaya akan berbagai jenis burung yaitu sebanyak 251 jenis dari 450 jenis yang terdapat di Pulau Jawa. Beberapa jenis diantaranya burung langka yaitu elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan burung hantu (Otus angelinae).

Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfir pada tahun 1977, dan sebagai Sister Park dengan Taman Negara di Malaysia pada tahun 1995.

Pemandangan dari Puncak Gunung Gede

Pemandangan dari Puncak Gunung Gede

Sejarah dan legenda yang merupakan kepercayaan masyarakat setempat yaitu tentang keberadaan Eyang Suryakencana dan Prabu Siliwangi di Gunung Gede. Masyarakat percaya bahwa roh Eyang Suryakencana dan Prabu Siliwangi akan tetap menjaga Gunung Gede agar tidak meletus. Pada saat tertentu, banyak orang yang masuk ke goa-goa sekitar Gunung Gede untuk semedhi/ bertapa maupun melakukan upacara religius.

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi :

Telaga Biru.

Danau kecil berukuran lima hektar (1.575 meter dpl.) terletak 1,5 km dari pintu masuk Cibodas. Danau ini selalu tampak biru diterpa sinar matahari, karena ditutupi oleh ganggang biru.

Air terjun Cibeureum.

Air terjun yang mempunyai ketinggian sekitar 50 meter terletak sekitar 2,8 km dari Cibodas. Di sekitar air terjun tersebut dapat melihat sejenis lumut merah yang endemik di Jawa Barat.
Air Panas. Terletak sekitar 5,3 km atau 2 jam perjalanan dari Cibodas.

Kandang Batu dan Kandang Badak.

Untuk kegiatan berkemah dan pengamatan tumbuhan/satwa. Berada pada ketinggian 2.220 m. dpl dengan jarak 7,8 km atau 3,5 jam perjalanan dari Cibodas.

Puncak dan Kawah Gunung Gede.

Panorama berupa pemandangan matahari terbenam/terbit, hamparan kota Cianjur-Sukabumi-Bogor terlihat dengan jelas, atraksi geologi yang menarik dan pengamatan tumbuhan khas sekitar kawah. Di puncak ini terdapat tiga kawah yang masih aktif dalam satu kompleks yaitu kawah Lanang, Ratu dan Wadon. Berada pada ketinggian 2.958 m. dpl dengan jarak 9,7 km atau 5 jam perjalanan dari Cibodas.

Alun-alun Suryakencana.

Dataran seluas 50 hektar yang ditutupi hamparan bunga edelweiss. Berada pada ketinggian 2.750 m. dpl dengan jarak 11,8 km atau 6 jam perjalanan dari Cibodas.

Gunung Putri dan Selabintana.

Berkemah dengan kapasitas 100-150 orang.

Musim kunjungan terbaik: bulan Juni s/d September.

Bunga Konyal (Passiflora edulis)

Bunga Konyal (Passiflora edulis)

Cara pencapaian lokasi: Jakarta-Bogor-Cibodas dengan waktu sekitar 2,5 jam (± 100 km) menggunakan mobil, atau Bandung-Cipanas-Cibodas dengan waktu 2 jam (± 89 km), dan Bogor-Selabintana dengan waktu 2 jam (52 km).
Bunga Konyal (Passiflora edulis) Kantor : Jl. Raya Cibodas PO Box 3 Sindanglaya
Cipanas 43253, Cianjur, Jawa Barat
Telp. (0263) 512776; Fax. (0263) 519415
E-mail : tngp@cianjur.wasantara.net.id

Dinyatakan Menteri Pertanian, tahun 1980 seluas 15.000 hektar
Ditunjuk —-
Ditetapkan —-
Letak Kab. Bogor, Kab. Cianjur dan Kab. Sukabumi, Provinsi Jawa Barat

Temperatur udara 5° – 28° C
Curah hujan Rata-rata 3.600 mm/tahun
Ketinggian tempat 1.000 – 3.000 m. dpl
Letak geografis 6°41’ – 6°51’ LS, 106°50’ – 107°02’ BT

Sumber: www.dephut.go.id

Rabu, 22 September 2010

GUA KISKENDA

Desa Jatimulyo, Girimulya, Kulon Progo Yogyakarta INDONESIA




Goa Kiskendo adalah goa alam di pegunungan Menoreh yang terletak 1200 m di atas permukaan laut yang berhawa sejuk. Goa ini terletak sekitar 35 km arah barat laut Yogyakarta di atas bukit utara Kabupaten Kulon Progo yang dapat diakses memalui jalan kecil beraspal. Hanya kendaraan beroda empat berukuran kecil saja yang dapat sampai ke gua ini. Bagi Anda yang datang dengan bis besar harus berhenti di desa Niten, dekat kantor kecamatan Giri Mulyo, sekitar 8 km dari gua.

Tidak jauh dari mulut goa Kiskendo terdapat Goa Sumitro yang mempunyai dua mulut vertikal dan horizontal yang mengalir sungai bawah tanah yang jernih. Objek wisata ini sangat cocok untuk kegiatan perkemahan karena didukung dengan adanya lahan yang luas dengan udara yang nyaman. Goa Kiskendo yang terletak di desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulya, dapat dicapai dari yogyakarta dengan jarak kurang lebih 38 km atau kurang dari 21 km dari kota wates. Sepanjang Goa Kiskendo dapat menikmati pemandangan alam pegunungan yang mempesona. Memasuki gua Kiskendo, pengunjung akan disambut oleh keindahan stalaktit dan stalagmit seperti gua batu kapur pada umumnya. Menurut legenda dahulu gua tersebut merupakan istana 2 raksasa bernama Maesosuro dan Lembusuro yang dikalahkan oleh Subali seperti yang dilukiskan pada relief di depan gua.

SEJARAH
Taman wisata ini terletak 35 kilometer di sebelah Barat kota Yogyakarta, di pegunungan Menboreh. Taman Wisata ini terdiri dari Goa Kiskendo, Goa Sumitro dan Watu Blencong . Merupakan goa alam di pegunungan Menoreh yang terletak 1200 m di atas permukaan laut yang berhawa sejuk, dari bentuk serta keadaannya sangat serupa dengan apa yang yang tersirat dalam legenda dalam legenda Istana Goa Kiskendo (yang merupakan fragmen dari cerita Ramayana ), tempat tinggal Raksasa Mahesasura yang berkepala kerbau dan Lembusura yang berkepala sapi.Dalam kisah pewayangan, di tempat ini terjadi pertempuran antara Subali Sugriwa dengan Mahesasura dan patih Lembusura yang menghuni goa ini.Di samping itu keadaan-keadaan geologis dari goa-goa yang ada di daerah berbatu kapur,Di dalam goa Kiskendo ini terdapat banyak stalaktit dan stalagmit yang aneh namun indah bentuknya.Di dalam goa ini mengalir sungai di bawah tanah yang dalam cerita pewayangan, dan dalam pertempuran antara Subali; Sugriwa dan Mahesasura ; Lembusura, mengalirkan air berwarna merah dan putih.

TIPS & TRIK
Selama perjalanan menuju gua, nikmatilah pemandangan indah diantara lembah, tanah pertanian yang hijau, dan rumah-rumah tradisional pedesaan sederhana yang sayang untuk tidak diabadikan.SELAMAT MENIKMATI

Pantai Ngandong



Terletak di Desa Sidoarjo, Kecamatan Tepus, sekitar 500 m di sebelah barat Pantai Sundak merupakan pantai landai yang berpasir putih. Masih satu kawasan dengan Pantai Ngandong atau tepatnya di Watu Lawang, terdapat rumah singgah Komunitas of Roader (CRAB) dengan fasilitasnya etara hotel berbintang lima, antara lain dilengkapi dengan ruang pertemuan, Spa dan lain-lain, sangat nyaman untuk tempat bersantai dan berakhir pekan. aku pengen ngajak temen temen kesini,masalahnya pantainya bagus,plus lum terlalu terjamah,wkwkwkwkwkwk.sebenernya deket sama rumahku,ya karena kurang nformasi ya jadinya lum pernah. sebenernya masih banyak pantai di daerah gunung kidul yang bagus,seperti pantai sepanjang,pantai sadrana,pantai siung,pantai slili dll.pokoknya gag kalah deh ma bali,hehehehehehehehehehe. wah dari pada banyak ngobrol mending langsung tancap gas aja ,menuju kesana.gooooooooooooooooooooooogogogogogoo....!



Selasa, 21 September 2010

pantai SIUNG

Bukan hanya Pulau Bali yang memiliki jejeran pantai berpasir putih, Propinsi D.I. Yogyakarta pun memiliki jejeran pantai indah berpasir putih di sepanjang pesisir pantai selatan Kabupaten Gunung Kidul. Salah satu pantai berpasir putih yang pantas dijadikan sebagai referensi adalah Pantai Siung yang tepatnya terletak di Dusun Duwet, Desa Purwodadi, Tepus, Gunung Kidul, DIY.

Pantai dengan tebing karang tinggi ini wajar bila lantas menjadi pantai favorit. Selain keindahannya, pantai ini didukung oleh suasananya yang tenang. Maklum saja, karena bukan objek wisata utama, seperti Baron, Sundak atau pantai Kukup, Pantai Siung memang cenderung lebih senyap.

Letaknya yang harus ditempuh perjalanan selama 2,5 jam dari Jogja dengan kendaraan bermotor mungkin juga penyebab sedikitnya wisatawan yang mampir ke daerah ini. Hal itulah yang akhirnya semakin menggugah hasrat trulyjogja.com untuk mengisi suatu weekend dengan camping hura-hura di sana. Membayangkan memiliki pantai indah itu sendirian sepanjang malam.

Sepanjang perjalanan menuju Pantai Siung kami sudah dimanja dengan hamparan bukit bertanah merah dengan pepohonan jati yang meranggas karena kemarau panjang. Namun sebenarnya di musim hujan, daerah ini akan tampak jauh lebih hijau.

Di sinilah nilai lebih kabupaten Gunung Kidul, walaupun terkenal sebagai daerah tandus dengan musim keringnya yang panjang namun tidak lantas menjadikan kawasan ini tanpa daya tarik. Setelah menempuh perjalanan selama hampir dua setengah jam melewati berbagai tanjakan dan kelokan, akhirnya hamparan pantai berpasir putih pun terlihat.

Begitu memasuki area parkir, para pengunjung akan langsung disambut oleh tebing dan karang yang tinggi. Berbeda dengan pantai lain di Jogja, suguhan Pantai Siung tak hanya berupa pasir putih dan air laut yang tenang. Jajaran tebing-tebing yang mengelilingi pantai layak untuk ditaklukkan.

Dengan sedikit mendaki, pemandangan yang didapat akan meninggalkan kesan tersendiri. Bahkan terdapat sebuah tempat yang tersembunyi di balik tebing-tebing, dengan hamparan rumput yang lumayan luas dan sebuah gazebo tradisional. Laut yang luas dengan bingkai tebing pun menjadi latar belakang pemandangan di sana.

Pesona tebing karang yang ditawarkan oleh Pantai Siung inilah yang akhirnya menobatkan objek wisata pantai Siung sebagai kawasan wisata minat khusus panjat tebing, yang diidentifikasikan secara simbolik dengan rumah panggung bernama Pondok Pemanjat, tempat khusus bagi para pemanjat yang ingin menjajal kemampuannya di sini. Selain fasilitas untuk para pemanjat, tersedia pula Ground Camp bagi pencinta kegiatan berkemah.

Pantai Siung memang tempat yang tepat untuk bersenang-senang dengan alam. Tapi jika Anda seseorang yang sangat gemar bermain air dan berlarian mengejar ombak di pinggir pantai pasir, jangan terlalu berharap banyak dari pantai ini. Sepanjang pinggir pantai tidak dibingkai oleh pasir putih nan halus melainkan karang dan bebatuan laut yang kurang bersahabat dengan telapak kaki kita. Solusinya, jangan lepaskan sandal anda. Namun justru karang-karang inilah yang mengamankan Pantai Siung dari terjangan langsung ombak besar, yang mungkin menyeret para penggemar air yang nekat.

Karang-karang tersebut berfungsi sebagai pemecah gelombang alami. Seorang teman yang juga gemar mengajak keluarganya bersahabat dengan alam menyatakan kesannya tentang Pantai ini “Dulu Pantai Siung jauh lebih indah, ketika pertama kali diresmikan, ikan-ikan terlihat berenang bebas di lautan bahkan dari jarak yang cukup dekat. Namun walaupun begitu, pantai Siung memang menarik dan memiliki magnet kuat untuk menarik kita kembali lagi.”

Melihat jauhnya perjalanan menuju ke Pantai Siung, tak ayal banyak yang memilih untuk berkemah di lokasi ini dibandingkan harus berangkat dan pulang dalam satu hari. Dengan berkemah, mereka juga mendapat banyak kegiatan tambahan. Mulai dari melihat sun set, moon rise, hingga berburu gurita di malam hari dengan bantuan obor. (rn)

Senin, 20 September 2010

Karimunjawa, Potensi Wisata yang Amat Menarik
















Alam Taman Laut Karimunjawa nan indah dan menakjubkan merupakan aset tak ternilai bagi Pemerintah Kabupaten Jepara. Menurut Surat Keputusan Menteri Kehutanan tertanggal 22 Februari 1998, Taman Nasional Karimunjawa merupakan gugusan kepulauan berjumlah 22 pulau yang terletak di Laut Jawa. Kepulauan Karimunjawa tersusun dari rangkaian 27 pulau. Dari 27 pulau itu, lima di antaranya dihuni penduduk, yaitu Pulau Karimunjawa, Kemujan, Parang, Nyamuk, dan Genting. Sebagian besar penduduk fokus pada sektor perikanan.

Perikanan tangkap menjadi andalan masyarakat setempat sejak berpuluh tahun lalu. Dari 14 kecamatan di Jepara, Kecamatan Karimunjawa tercatat memiliki jumlah nelayan terbesar, yaitu 2.945 orang dari total jumlah nelayan 12.382 orang (Data BPS Jepara 2004). Di wilayah Karimunjawa komposisi profesi nelayan mencapai 60,25 persen dibandingkan dengan profesi lain. Pemerintah Kabupaten Jepara membuka Karimunjawa untuk pariwisata. ”Kami membuka pintu investasi di Kepulauan Karimunjawa selebar-lebarnya,” ujar Bupati Jepara Hendro Martojo ketika ditemui beberapa saat lalu di ruang kerjanya.Jarak Semarang-Karimunjawa yang dihubungkan 60 mil laut dapat dicapai dengan waktu tempuh 3,5 jam.
Dibukanya akses Semarang-Karimunjawa cukup meningkatkan arus wisatawan untuk berkunjung. Apalagi kapal ini melayani Semarang-Karimunjawa tiap akhir pekan, Sabtu pukul 09.00 dan kembali dari Karimunjawa ke Semarang esok harinya. Tarif kelas eksekutif Rp 95.000 per orang dan kelas bisnis Rp 80.000 per orang. Celah ini pun direspons positif penduduk Karimunjawa. Setidaknya kini kepulauan ini memiliki 20 hotel/homestay dengan kapasitas kamar berdaya tampung 155 orang. Berjarak 300 meter dari Pulau Menjangan Besar, wisma ini berada di wilayah pantai. Letak yang cukup strategis ini dimanfaatkan Ismarjoko dengan membuat kolam air laut di tengah wismanya. Dengan delapan kamar yang tersedia dan tarif sewa Rp 50.000-Rp 60.000 per malam. Setiap akhir pekan wisatawan selalu memadati wismanya. Kecuali saat musim angin barat di mana semua kapal tidak dioperasikan.

Selain Kapal Cepat Kartini, tersedia juga sarana perhubungan lain, yaitu KM Muria. Kapal yang hanya melayani Jepara-Karimunjawa itu beroperasi dua kali seminggu dari Pelabuhan Kartini Jepara. Pengguna kapal yang dikelola PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan ini didominasi kalangan menengah ke bawah karena harga yang dipatok lebih murah.

Kura-Kura Resor selaku pelaku bisnis wisata ikut melirik potensi wisata di Karimunjawa. Dengan mengelola Pulau Menyawakan, mereka menawarkan resor sekelas bintang lima dengan 10 kamar.

Paket wisata yang ditawarkan Kura-Kura Resor terdiri atas paket wisata menginap dua hari satu malam seharga 137 dollar AS. Kali ini paket wisata juga menawarkan paket empat hari tiga malam seharga 274 dollar AS.

Biaya ini sudah termasuk jasa transportasi dari Bandar Udara Ahmad Yani, Semarang, ke Bandar Udara Dewa Daru, Karimunjawa. Menggunakan pesawat sekelas Cassa 212, tak sampai satu jam wisatawan berduit dapat mencapai Karimunjawa.

Pada tahun 2002 Kura-Kura Hotel berdiri di Pulau Karimunjawa. Hotel ini terletak 10 menit dari Dermaga Pelabuhan Karimunjawa dan 30 menit dari Bandara Dewa Daru, Karimunjawa.

Dekat Kura-Kura Hotel juga berdiri Hotel Melati. Hotel ini menyediakan 13 kamar yang terdiri dari enam bungalo keluarga dan tujuh kamar standar. Beberapa waktu terakhir yang tengah marak adalah pembuatan berbagai homestay atau tempat penginapan.Di tempat ini terdapat tujuh kamar yang dilengkapi kolam ikan hiu dan penyu.

Semakin ke arah darat, di Pulau Karimunjawa menjamur sedikitnya 16 homestay sederhana yang dikelola penduduk setempat. Pemerintah Kabupaten Jepara mendirikan Wisma Wisata yang terletak di tepi alun-alun Pulau Karimunjawa.

Wisata yang ditawarkan,antara lain :

ATRAKSI
Atraksi atam yang ada cenderung mengarah pada wisata petualangan (adventure tour) atau wisata penelitian (research tour), berdasarkan keadaan geo;ogis dan alam yang ada di Kepulauan Karimunjawa.

ATRAKSI ALAM DARAT
Hiking
Lokasi cukup mendukung untuk aktivitas ini adalah di Pulau Karimunjawa, Pulau Kernujan, dan Pulau Karang. Vegetasi yang dimiliki pulau - pulau ini adalah luas hutan 1.283,2 ha. Yang didominasi oleh mangrove jenis Brugueira gymnorrbiza, Rhizophora stylosa, Rhizophora apiculata dan Rizophora mucronata

Sun Bathing
Wisata sunbathing atau berjemur / wisata di pantai dapat dinikmati disebelah barat pulau Menjangan Besar dan sebetah barat Laut Pulau Cemara Kecil.

Camping
Camping sebagai bagian dari wisata petualangan, dan dinikmati didaerah Kemujan dan di sebelah Pulau Parang

Bird Watching
Di Keputauan Karimunjawa, terdapat 33 spesies burung darat dan pantai, sedangkan pada tahun 1991 ditemukan 52 spesies burung darat.
Daerah yang dapat dijadikan objek wisata inj adalah Pulau Kemujan yang memiliki 12 jenis burung, khususnya di habitat hutan bakau,hutan campur, kebun kelapa, dan daerah pedesaan. jenis -jenis burung yang dominan adatah trucukan, kacamata gunung, raja udang, prenjakserta kareo.
Selain di Pulau Kernujan, di Pulau Karimunjawa juga memiliki 34 jenis Burung yang termasuk dalam 27 genus dan 20 familia. Jenis burung yang dapat dijumpai adalah trocokan, raja udang, kacamata gunung, pergam kelenjar dan cinenen kelabu.

ATRAKSI ALAM PERAIRAN
Swimming
Derah yang mendukung untuk dijadikan aktivitas ini meliputi antara lain sebelah Utara Pulau Karimunjawai, Menjangan Besar dan Menjangan Kecil, daerah sekitar pulau Kemujan, sekitar Pulau Parang dan Pulau Kembar dan Pulau Kembang.
Snorkling
Untuk aktivitas snorkling dapat dilakukan di beberapa daerah terumbu karang yaitu Pulau Menjagan Besa dan Kecil, sebelah barat Pulau Bengkoang, sekitar Pulau Kembar, sebelah Utara dan Timur Pulau Krakal.

Diving

Kondisi oceanografi pada perairan Karimunjawa ini sebagai berikut; suhu 28-32 dengan ph 7-8, substrat pada perairan inj adalah karang berpasir dengan kecerahan perairan 3-5 meter. Sebagian besar karang yang ditemukan adalah jenis Acropora dan karang masive.
Daerah yang dapat dikembangkan untuk aktivitas wisata ini metiputi sebelah Utara dan Barat Pulau Karimunjawa, sebetah Timur Pulau Menjangan Besar, sebelah Selatan Pulau Menjangan Kecil, sebelah Selatan dan Barat Pulau Geliang, sebelah Barat Pulau Bengkoang, sebelah Barat Pulau Parang, sebelah Timur Pulau Kembar, sekitar Pulau Katang, sebelah Utara dan Timur Pulau Krakal Kecil, sebelah Barat dan Utara Pulau Kumbang, dan sekitar Karang Besi.

Fishing
Kelimpahan dan variasi jenis - jenis ikan memungkinkan untuk kawasan pemancingan. Adapun daerah - daerah yang mendukung untuk dikembangkan aktivitas ini meliputi sekitar Pulau Menjangan Besar dan Menjangan Kecil, sekitar Pulau Menyawakan, sekitar Pulau Genting, sekitar Pulau Seruni, sekitar Pulau Kemujan, sekitar Pulau Tengah, sebelah barat Pulau Bengkoang, sekitar Pulau Parang, sekitar Pulau Kembar, sekitar Pulau Kumbang dan sekitar Legom Lele.

Acara tradisional
Di Kepulauan Karimunjawa terdapat beberapa acara tradisional yang dapat dikembangkan kembali, yaitu

Perkawinan Suku Bugis yang dimulai dengan acara Mapuce-puce, masuro, maddupa, Mappaenre balanja dan Pesta Anggaukeng.
Upacara Peluncuran Perahu. Acara syukuran yang telah selesainya pembuatan perahu.

Menombak Ikan. Acara menombak ikan di pantal pada saat laut surut di malam hari, biasanya penduduk membawa lampu sebagai alat penerangan.

Makam Sunan Nyamplungan. Satah satu objek wisata religi yang ada di Pulau Karimunjawa yaitu makam Sunan Nyamplungan. Sunan Nyamplungan sebagai orang pertama yang mendiami Kepulauan Karimunjawa, yang juga murid dari Sunan Kudus.

Sumur Wali. Sumur ini merupakan salah satu sumur yang disucikan di Pulau Parang, dipercaya apabila mendapati sumur tersebut berisikan air dan mengambil airnya akan membawa keberuntungan bagi yang mengambilnya.

Rumah Adat
Sebagai hasil budaya manusia dinitai cukup menarik untuk dijadikan sebagai objek wisata. Keanekaragaman suku yang mendiami Kepulauan Karimunjawa merupakan aset untuk objek wisata budaya. Rumah adat suku Bugis dapat ditihat di Dukuh Batu Lawang, Dukuh legon Gede dan Dukuh Tlogo (Pulau Kernujan). Untuk suku bangsa Buton terdapat di Pulau Nyamuk. Suku Madura berdiam di Dukuhh Telaga di Pulau Kemujan, dan dukuh Karimun Pulau Karimunjawa.

Flora dan Fauna
Vegetasi

Tanaman kelapa merupakan vegetasi utama yang ditemukan sebagian besar pulau-pulau kecill yang tak berpenghuni, seperti: Pulau Menjangan Besar, Pulau Menjangan kecil, P. Bengkoang, P. Menyawakan dan P. Kembar
Tumbuhan langka dan khas Karimunjawa yaitu kalimaada, dewandaru dan setigi yang dianggap berkhasiat dan dikeramatkan oleh penduduk,
Vegetasi pesisir disusun oleh beberapa jenis bakau seperti Rhizopora sp, Bruguiera sp, Zvicenia sp, dll. Serta beberapa bakau ikutan dan vegetasi pesisir lain seperti gabusan, cemara, ketapang, waru laut dan sebagainya.

Jenis fauna darat
menjangan (Muntiacus Muntjak)
kera ekor panjang (macaca fascicularis)
ular edor (akistrodon rhodostorna)
landak (Hystrix brachra)
biawak (Varanus salvator)
trenggiling (Manis javanica)
Rase dan berbagai jenis Ular.

Jenis Unggas/Burung
Trucukan
Betet
raja udang
etang taut burik
alap-alap
burung khas Karimunjawa, yaitu
trucuk Pycnonotus goiaviar ras karimuciensis
betet Psittacula alexandria ras dommermani
punai leher merah Treron vernans ras Karimuniesnis
cinenen kelabu Orthonomus Sepium ras pattiolatus
burung pergam ketanjar Ducula roscacea


Kamis, 03 Juni 2010

Wonosobo dan DIENG plateu



Dieng adalah dataran tinggi di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Dieng adalah wilayah vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa. Kawah-kawah kepundan banyak dijumpai di sana. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000m di atas permukaan laut. Suhu di Dieng sejuk mendekati dingin, berkisar 15—20 °C di siang hari dan 10 °C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara terkadang dapat mencapai 0 °C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.



Secara administrasi, Dieng mencakup Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Hingga tahun 1990-an wilayah ini tidak terjangkau listrik dan merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah.

Geologi

Dataran tinggi Dieng (DTD) adalah dataran dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya, seperti Yellowstone ataupun Dataran Tinggi Tengger. Sesungguhnya ia adalah kaldera dengan gunung-gunung di sekitarnya sebagai tepinya. Terdapat banyak kawah sebagai tempat keluarnya gas, uap air dan berbagai material vulkanik lainnya. Keadaan ini sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni wilayah itu, terbukti dengan adanya bencana letusan gas Kawah Sinila 1979. Tidak hanya gas beracun, tetapi juga dapat dimungkinkan terjadi gempa bumi, letusan lumpur, tanah longsor dan banjir.

Selain kawah, terdapat pula danau-danau vulkanik yang berisi air bercampur belerang sehingga memiliki warna khas kuning kehijauan.

Secara biologi, aktivitas vulkanik di Dieng menarik karena ditemukan di air-air panas di dekat kawah beberapa spesies bakteri termofilik ("suka panas") yang dapat dipakai untuk menyingkap kehidupan awal di bumi.

Kawah-kawah & telaga






Berikut adalah kawah-kawah di DTD:

  • Candradimuka
  • Sibanteng
  • Siglagah
  • Sikendang, berpotensi gas beracun
  • Sikidang
  • Sileri
  • Sinila, berpotensi gas beracun
  • Timbang, berpotensi gas beracun
  • Kawah Sibanteng

    Sibanteng terletak di Desa Dieng Kulon. Kawah ini pernah meletus freatik dua pada bulan Januari 2009 (15/1)[1], menyebabkan kawasan wisata Dieng harus ditutup beberapa hari untuk mengantisipasi terjadinya bencana keracunan gas. Letusan lumpurnya terdengar hingga 2km, merusak hutan milik Perhutani di sekitarnya, dan menyebabkan longsor yang membendung Kali Putih, anak Sungai Serayu.

    Sebelumnya Kawah Sibanteng meletus pada bulan Juli 2003.

    Kawah Sikidang

    Kawah Sikidang adalah kawah di DTD yang paling populer dikunjungi wisatawan karena paling mudah dicapai. Kawah ini terkenal karena lubang keluarnya gas selalu berpindah-pindah di dalam suatu kawasan luas.

    Kawah Sileri

    Sileri adalah kawah yang paling aktif dan pernah meletus beberapa kali (catatan yang ada 1944, 1964, 1984, dan Juli 2003). Pada aktivitas freatik terakhir (26 September 2009) muncul tiga katup kawah yang baru disertai dengan pancaran material setinggi 200 meter.[2]

    Kawah Sinila

    Sinila terletak di Desa Dieng Wetan. Kawah Sinila pernah meletus pada pagi hari tahun 1979,[3] tepatnya 20 Februari 1979. Gempa yang ditimbulkan membuat warga berlarian ke luar rumah, namun kemudian terperangkap gas yang keluar dari Kawah Timbang akibat terpicu letusan Sinila.[4] Sejumlah warga (149 jiwa) dan ternak tewas keracunan gas karbondioksida yang terlepas dan menyebar ke wilayah pemukiman.

    Puncak-puncak

  • Gunung Prahu (2.565 m)
  • Gunung Pakuwaja (2.395 m)
  • Gunung Sikunir (2.263 m), tempat wisata, dekat Sembungan

Danau vulkanik

  • Telaga Warna, obyek wisata dengan tempat persemadian di dekatnya
  • Telaga Cebon, dekat desa wisata Sembungan
  • Telaga Merdada
  • Telaga Pengilon
  • Telaga Dringo
  • Telaga Nila
  • Sejarah

    Obyek wisata

    Kompleks Candi Arjuna, Dieng

    Beberapa peninggalan budaya dan alam telah dijadikan sebagai obyek wisata dan dikelola bersama oleh dua kabupaten, yaitu Banjarnegara dan Wonosobo. Berikut beberapa obyek wisata di Dieng.

  • Telaga: Telaga Warna, sebuah telaga yang sering memunculkan nuansa warna merah, hijau, biru, putih, dan lembayung, Telaga Pengilon, Telaga Merdada.
  • Kawah: Sikidang, Sileri, Sinila (meletus dan mengeluarkan gas beracun pada tahun 1979 dengan korban 149 jiwa), Kawah Candradimuka.
  • Kompleks candi-candi Hindu yang dibangun pada abad ke-7, antara lain: Candi Gatotkaca, Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Sembadra, Candi Srikandi, Candi Setyaki, Gangsiran Aswatama, dan Candi Dwarawati.
  • Gua: Gua Semar, Gua Jaran, Gua Sumur. Terletak di antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon, sering digunakan sebagai tempat olah spiritual.
  • Sumur Jalatunda.
  • Dieng Volcanic Theater, teater untuk melihat film tentang kegunungapian di Dieng.
  • Museum Dieng Kailasa, menyimpan artefak dan memberikan informasi tentang alam (geologi, flora-fauna), masyarakat Dieng (keseharian, pertanian, kepercayaan, kesenian) serta warisan arkeologi dari Dieng. Memiliki teater untuk melihat film (saat ini tentang arkeologi Dieng), panggung terbuka di atas atap museum, serta restoran.
  • Mata air Sungai Serayu, sering disebut dengan Tuk Bima Lukar (Tuk = mata air).
  • salam petualang