Laman

Rabu, 22 September 2010

GUA KISKENDA

Desa Jatimulyo, Girimulya, Kulon Progo Yogyakarta INDONESIA




Goa Kiskendo adalah goa alam di pegunungan Menoreh yang terletak 1200 m di atas permukaan laut yang berhawa sejuk. Goa ini terletak sekitar 35 km arah barat laut Yogyakarta di atas bukit utara Kabupaten Kulon Progo yang dapat diakses memalui jalan kecil beraspal. Hanya kendaraan beroda empat berukuran kecil saja yang dapat sampai ke gua ini. Bagi Anda yang datang dengan bis besar harus berhenti di desa Niten, dekat kantor kecamatan Giri Mulyo, sekitar 8 km dari gua.

Tidak jauh dari mulut goa Kiskendo terdapat Goa Sumitro yang mempunyai dua mulut vertikal dan horizontal yang mengalir sungai bawah tanah yang jernih. Objek wisata ini sangat cocok untuk kegiatan perkemahan karena didukung dengan adanya lahan yang luas dengan udara yang nyaman. Goa Kiskendo yang terletak di desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulya, dapat dicapai dari yogyakarta dengan jarak kurang lebih 38 km atau kurang dari 21 km dari kota wates. Sepanjang Goa Kiskendo dapat menikmati pemandangan alam pegunungan yang mempesona. Memasuki gua Kiskendo, pengunjung akan disambut oleh keindahan stalaktit dan stalagmit seperti gua batu kapur pada umumnya. Menurut legenda dahulu gua tersebut merupakan istana 2 raksasa bernama Maesosuro dan Lembusuro yang dikalahkan oleh Subali seperti yang dilukiskan pada relief di depan gua.

SEJARAH
Taman wisata ini terletak 35 kilometer di sebelah Barat kota Yogyakarta, di pegunungan Menboreh. Taman Wisata ini terdiri dari Goa Kiskendo, Goa Sumitro dan Watu Blencong . Merupakan goa alam di pegunungan Menoreh yang terletak 1200 m di atas permukaan laut yang berhawa sejuk, dari bentuk serta keadaannya sangat serupa dengan apa yang yang tersirat dalam legenda dalam legenda Istana Goa Kiskendo (yang merupakan fragmen dari cerita Ramayana ), tempat tinggal Raksasa Mahesasura yang berkepala kerbau dan Lembusura yang berkepala sapi.Dalam kisah pewayangan, di tempat ini terjadi pertempuran antara Subali Sugriwa dengan Mahesasura dan patih Lembusura yang menghuni goa ini.Di samping itu keadaan-keadaan geologis dari goa-goa yang ada di daerah berbatu kapur,Di dalam goa Kiskendo ini terdapat banyak stalaktit dan stalagmit yang aneh namun indah bentuknya.Di dalam goa ini mengalir sungai di bawah tanah yang dalam cerita pewayangan, dan dalam pertempuran antara Subali; Sugriwa dan Mahesasura ; Lembusura, mengalirkan air berwarna merah dan putih.

TIPS & TRIK
Selama perjalanan menuju gua, nikmatilah pemandangan indah diantara lembah, tanah pertanian yang hijau, dan rumah-rumah tradisional pedesaan sederhana yang sayang untuk tidak diabadikan.SELAMAT MENIKMATI

Pantai Ngandong



Terletak di Desa Sidoarjo, Kecamatan Tepus, sekitar 500 m di sebelah barat Pantai Sundak merupakan pantai landai yang berpasir putih. Masih satu kawasan dengan Pantai Ngandong atau tepatnya di Watu Lawang, terdapat rumah singgah Komunitas of Roader (CRAB) dengan fasilitasnya etara hotel berbintang lima, antara lain dilengkapi dengan ruang pertemuan, Spa dan lain-lain, sangat nyaman untuk tempat bersantai dan berakhir pekan. aku pengen ngajak temen temen kesini,masalahnya pantainya bagus,plus lum terlalu terjamah,wkwkwkwkwkwk.sebenernya deket sama rumahku,ya karena kurang nformasi ya jadinya lum pernah. sebenernya masih banyak pantai di daerah gunung kidul yang bagus,seperti pantai sepanjang,pantai sadrana,pantai siung,pantai slili dll.pokoknya gag kalah deh ma bali,hehehehehehehehehehe. wah dari pada banyak ngobrol mending langsung tancap gas aja ,menuju kesana.gooooooooooooooooooooooogogogogogoo....!



Selasa, 21 September 2010

pantai SIUNG

Bukan hanya Pulau Bali yang memiliki jejeran pantai berpasir putih, Propinsi D.I. Yogyakarta pun memiliki jejeran pantai indah berpasir putih di sepanjang pesisir pantai selatan Kabupaten Gunung Kidul. Salah satu pantai berpasir putih yang pantas dijadikan sebagai referensi adalah Pantai Siung yang tepatnya terletak di Dusun Duwet, Desa Purwodadi, Tepus, Gunung Kidul, DIY.

Pantai dengan tebing karang tinggi ini wajar bila lantas menjadi pantai favorit. Selain keindahannya, pantai ini didukung oleh suasananya yang tenang. Maklum saja, karena bukan objek wisata utama, seperti Baron, Sundak atau pantai Kukup, Pantai Siung memang cenderung lebih senyap.

Letaknya yang harus ditempuh perjalanan selama 2,5 jam dari Jogja dengan kendaraan bermotor mungkin juga penyebab sedikitnya wisatawan yang mampir ke daerah ini. Hal itulah yang akhirnya semakin menggugah hasrat trulyjogja.com untuk mengisi suatu weekend dengan camping hura-hura di sana. Membayangkan memiliki pantai indah itu sendirian sepanjang malam.

Sepanjang perjalanan menuju Pantai Siung kami sudah dimanja dengan hamparan bukit bertanah merah dengan pepohonan jati yang meranggas karena kemarau panjang. Namun sebenarnya di musim hujan, daerah ini akan tampak jauh lebih hijau.

Di sinilah nilai lebih kabupaten Gunung Kidul, walaupun terkenal sebagai daerah tandus dengan musim keringnya yang panjang namun tidak lantas menjadikan kawasan ini tanpa daya tarik. Setelah menempuh perjalanan selama hampir dua setengah jam melewati berbagai tanjakan dan kelokan, akhirnya hamparan pantai berpasir putih pun terlihat.

Begitu memasuki area parkir, para pengunjung akan langsung disambut oleh tebing dan karang yang tinggi. Berbeda dengan pantai lain di Jogja, suguhan Pantai Siung tak hanya berupa pasir putih dan air laut yang tenang. Jajaran tebing-tebing yang mengelilingi pantai layak untuk ditaklukkan.

Dengan sedikit mendaki, pemandangan yang didapat akan meninggalkan kesan tersendiri. Bahkan terdapat sebuah tempat yang tersembunyi di balik tebing-tebing, dengan hamparan rumput yang lumayan luas dan sebuah gazebo tradisional. Laut yang luas dengan bingkai tebing pun menjadi latar belakang pemandangan di sana.

Pesona tebing karang yang ditawarkan oleh Pantai Siung inilah yang akhirnya menobatkan objek wisata pantai Siung sebagai kawasan wisata minat khusus panjat tebing, yang diidentifikasikan secara simbolik dengan rumah panggung bernama Pondok Pemanjat, tempat khusus bagi para pemanjat yang ingin menjajal kemampuannya di sini. Selain fasilitas untuk para pemanjat, tersedia pula Ground Camp bagi pencinta kegiatan berkemah.

Pantai Siung memang tempat yang tepat untuk bersenang-senang dengan alam. Tapi jika Anda seseorang yang sangat gemar bermain air dan berlarian mengejar ombak di pinggir pantai pasir, jangan terlalu berharap banyak dari pantai ini. Sepanjang pinggir pantai tidak dibingkai oleh pasir putih nan halus melainkan karang dan bebatuan laut yang kurang bersahabat dengan telapak kaki kita. Solusinya, jangan lepaskan sandal anda. Namun justru karang-karang inilah yang mengamankan Pantai Siung dari terjangan langsung ombak besar, yang mungkin menyeret para penggemar air yang nekat.

Karang-karang tersebut berfungsi sebagai pemecah gelombang alami. Seorang teman yang juga gemar mengajak keluarganya bersahabat dengan alam menyatakan kesannya tentang Pantai ini “Dulu Pantai Siung jauh lebih indah, ketika pertama kali diresmikan, ikan-ikan terlihat berenang bebas di lautan bahkan dari jarak yang cukup dekat. Namun walaupun begitu, pantai Siung memang menarik dan memiliki magnet kuat untuk menarik kita kembali lagi.”

Melihat jauhnya perjalanan menuju ke Pantai Siung, tak ayal banyak yang memilih untuk berkemah di lokasi ini dibandingkan harus berangkat dan pulang dalam satu hari. Dengan berkemah, mereka juga mendapat banyak kegiatan tambahan. Mulai dari melihat sun set, moon rise, hingga berburu gurita di malam hari dengan bantuan obor. (rn)

Senin, 20 September 2010

Karimunjawa, Potensi Wisata yang Amat Menarik
















Alam Taman Laut Karimunjawa nan indah dan menakjubkan merupakan aset tak ternilai bagi Pemerintah Kabupaten Jepara. Menurut Surat Keputusan Menteri Kehutanan tertanggal 22 Februari 1998, Taman Nasional Karimunjawa merupakan gugusan kepulauan berjumlah 22 pulau yang terletak di Laut Jawa. Kepulauan Karimunjawa tersusun dari rangkaian 27 pulau. Dari 27 pulau itu, lima di antaranya dihuni penduduk, yaitu Pulau Karimunjawa, Kemujan, Parang, Nyamuk, dan Genting. Sebagian besar penduduk fokus pada sektor perikanan.

Perikanan tangkap menjadi andalan masyarakat setempat sejak berpuluh tahun lalu. Dari 14 kecamatan di Jepara, Kecamatan Karimunjawa tercatat memiliki jumlah nelayan terbesar, yaitu 2.945 orang dari total jumlah nelayan 12.382 orang (Data BPS Jepara 2004). Di wilayah Karimunjawa komposisi profesi nelayan mencapai 60,25 persen dibandingkan dengan profesi lain. Pemerintah Kabupaten Jepara membuka Karimunjawa untuk pariwisata. ”Kami membuka pintu investasi di Kepulauan Karimunjawa selebar-lebarnya,” ujar Bupati Jepara Hendro Martojo ketika ditemui beberapa saat lalu di ruang kerjanya.Jarak Semarang-Karimunjawa yang dihubungkan 60 mil laut dapat dicapai dengan waktu tempuh 3,5 jam.
Dibukanya akses Semarang-Karimunjawa cukup meningkatkan arus wisatawan untuk berkunjung. Apalagi kapal ini melayani Semarang-Karimunjawa tiap akhir pekan, Sabtu pukul 09.00 dan kembali dari Karimunjawa ke Semarang esok harinya. Tarif kelas eksekutif Rp 95.000 per orang dan kelas bisnis Rp 80.000 per orang. Celah ini pun direspons positif penduduk Karimunjawa. Setidaknya kini kepulauan ini memiliki 20 hotel/homestay dengan kapasitas kamar berdaya tampung 155 orang. Berjarak 300 meter dari Pulau Menjangan Besar, wisma ini berada di wilayah pantai. Letak yang cukup strategis ini dimanfaatkan Ismarjoko dengan membuat kolam air laut di tengah wismanya. Dengan delapan kamar yang tersedia dan tarif sewa Rp 50.000-Rp 60.000 per malam. Setiap akhir pekan wisatawan selalu memadati wismanya. Kecuali saat musim angin barat di mana semua kapal tidak dioperasikan.

Selain Kapal Cepat Kartini, tersedia juga sarana perhubungan lain, yaitu KM Muria. Kapal yang hanya melayani Jepara-Karimunjawa itu beroperasi dua kali seminggu dari Pelabuhan Kartini Jepara. Pengguna kapal yang dikelola PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan ini didominasi kalangan menengah ke bawah karena harga yang dipatok lebih murah.

Kura-Kura Resor selaku pelaku bisnis wisata ikut melirik potensi wisata di Karimunjawa. Dengan mengelola Pulau Menyawakan, mereka menawarkan resor sekelas bintang lima dengan 10 kamar.

Paket wisata yang ditawarkan Kura-Kura Resor terdiri atas paket wisata menginap dua hari satu malam seharga 137 dollar AS. Kali ini paket wisata juga menawarkan paket empat hari tiga malam seharga 274 dollar AS.

Biaya ini sudah termasuk jasa transportasi dari Bandar Udara Ahmad Yani, Semarang, ke Bandar Udara Dewa Daru, Karimunjawa. Menggunakan pesawat sekelas Cassa 212, tak sampai satu jam wisatawan berduit dapat mencapai Karimunjawa.

Pada tahun 2002 Kura-Kura Hotel berdiri di Pulau Karimunjawa. Hotel ini terletak 10 menit dari Dermaga Pelabuhan Karimunjawa dan 30 menit dari Bandara Dewa Daru, Karimunjawa.

Dekat Kura-Kura Hotel juga berdiri Hotel Melati. Hotel ini menyediakan 13 kamar yang terdiri dari enam bungalo keluarga dan tujuh kamar standar. Beberapa waktu terakhir yang tengah marak adalah pembuatan berbagai homestay atau tempat penginapan.Di tempat ini terdapat tujuh kamar yang dilengkapi kolam ikan hiu dan penyu.

Semakin ke arah darat, di Pulau Karimunjawa menjamur sedikitnya 16 homestay sederhana yang dikelola penduduk setempat. Pemerintah Kabupaten Jepara mendirikan Wisma Wisata yang terletak di tepi alun-alun Pulau Karimunjawa.

Wisata yang ditawarkan,antara lain :

ATRAKSI
Atraksi atam yang ada cenderung mengarah pada wisata petualangan (adventure tour) atau wisata penelitian (research tour), berdasarkan keadaan geo;ogis dan alam yang ada di Kepulauan Karimunjawa.

ATRAKSI ALAM DARAT
Hiking
Lokasi cukup mendukung untuk aktivitas ini adalah di Pulau Karimunjawa, Pulau Kernujan, dan Pulau Karang. Vegetasi yang dimiliki pulau - pulau ini adalah luas hutan 1.283,2 ha. Yang didominasi oleh mangrove jenis Brugueira gymnorrbiza, Rhizophora stylosa, Rhizophora apiculata dan Rizophora mucronata

Sun Bathing
Wisata sunbathing atau berjemur / wisata di pantai dapat dinikmati disebelah barat pulau Menjangan Besar dan sebetah barat Laut Pulau Cemara Kecil.

Camping
Camping sebagai bagian dari wisata petualangan, dan dinikmati didaerah Kemujan dan di sebelah Pulau Parang

Bird Watching
Di Keputauan Karimunjawa, terdapat 33 spesies burung darat dan pantai, sedangkan pada tahun 1991 ditemukan 52 spesies burung darat.
Daerah yang dapat dijadikan objek wisata inj adalah Pulau Kemujan yang memiliki 12 jenis burung, khususnya di habitat hutan bakau,hutan campur, kebun kelapa, dan daerah pedesaan. jenis -jenis burung yang dominan adatah trucukan, kacamata gunung, raja udang, prenjakserta kareo.
Selain di Pulau Kernujan, di Pulau Karimunjawa juga memiliki 34 jenis Burung yang termasuk dalam 27 genus dan 20 familia. Jenis burung yang dapat dijumpai adalah trocokan, raja udang, kacamata gunung, pergam kelenjar dan cinenen kelabu.

ATRAKSI ALAM PERAIRAN
Swimming
Derah yang mendukung untuk dijadikan aktivitas ini meliputi antara lain sebelah Utara Pulau Karimunjawai, Menjangan Besar dan Menjangan Kecil, daerah sekitar pulau Kemujan, sekitar Pulau Parang dan Pulau Kembar dan Pulau Kembang.
Snorkling
Untuk aktivitas snorkling dapat dilakukan di beberapa daerah terumbu karang yaitu Pulau Menjagan Besa dan Kecil, sebelah barat Pulau Bengkoang, sekitar Pulau Kembar, sebelah Utara dan Timur Pulau Krakal.

Diving

Kondisi oceanografi pada perairan Karimunjawa ini sebagai berikut; suhu 28-32 dengan ph 7-8, substrat pada perairan inj adalah karang berpasir dengan kecerahan perairan 3-5 meter. Sebagian besar karang yang ditemukan adalah jenis Acropora dan karang masive.
Daerah yang dapat dikembangkan untuk aktivitas wisata ini metiputi sebelah Utara dan Barat Pulau Karimunjawa, sebetah Timur Pulau Menjangan Besar, sebelah Selatan Pulau Menjangan Kecil, sebelah Selatan dan Barat Pulau Geliang, sebelah Barat Pulau Bengkoang, sebelah Barat Pulau Parang, sebelah Timur Pulau Kembar, sekitar Pulau Katang, sebelah Utara dan Timur Pulau Krakal Kecil, sebelah Barat dan Utara Pulau Kumbang, dan sekitar Karang Besi.

Fishing
Kelimpahan dan variasi jenis - jenis ikan memungkinkan untuk kawasan pemancingan. Adapun daerah - daerah yang mendukung untuk dikembangkan aktivitas ini meliputi sekitar Pulau Menjangan Besar dan Menjangan Kecil, sekitar Pulau Menyawakan, sekitar Pulau Genting, sekitar Pulau Seruni, sekitar Pulau Kemujan, sekitar Pulau Tengah, sebelah barat Pulau Bengkoang, sekitar Pulau Parang, sekitar Pulau Kembar, sekitar Pulau Kumbang dan sekitar Legom Lele.

Acara tradisional
Di Kepulauan Karimunjawa terdapat beberapa acara tradisional yang dapat dikembangkan kembali, yaitu

Perkawinan Suku Bugis yang dimulai dengan acara Mapuce-puce, masuro, maddupa, Mappaenre balanja dan Pesta Anggaukeng.
Upacara Peluncuran Perahu. Acara syukuran yang telah selesainya pembuatan perahu.

Menombak Ikan. Acara menombak ikan di pantal pada saat laut surut di malam hari, biasanya penduduk membawa lampu sebagai alat penerangan.

Makam Sunan Nyamplungan. Satah satu objek wisata religi yang ada di Pulau Karimunjawa yaitu makam Sunan Nyamplungan. Sunan Nyamplungan sebagai orang pertama yang mendiami Kepulauan Karimunjawa, yang juga murid dari Sunan Kudus.

Sumur Wali. Sumur ini merupakan salah satu sumur yang disucikan di Pulau Parang, dipercaya apabila mendapati sumur tersebut berisikan air dan mengambil airnya akan membawa keberuntungan bagi yang mengambilnya.

Rumah Adat
Sebagai hasil budaya manusia dinitai cukup menarik untuk dijadikan sebagai objek wisata. Keanekaragaman suku yang mendiami Kepulauan Karimunjawa merupakan aset untuk objek wisata budaya. Rumah adat suku Bugis dapat ditihat di Dukuh Batu Lawang, Dukuh legon Gede dan Dukuh Tlogo (Pulau Kernujan). Untuk suku bangsa Buton terdapat di Pulau Nyamuk. Suku Madura berdiam di Dukuhh Telaga di Pulau Kemujan, dan dukuh Karimun Pulau Karimunjawa.

Flora dan Fauna
Vegetasi

Tanaman kelapa merupakan vegetasi utama yang ditemukan sebagian besar pulau-pulau kecill yang tak berpenghuni, seperti: Pulau Menjangan Besar, Pulau Menjangan kecil, P. Bengkoang, P. Menyawakan dan P. Kembar
Tumbuhan langka dan khas Karimunjawa yaitu kalimaada, dewandaru dan setigi yang dianggap berkhasiat dan dikeramatkan oleh penduduk,
Vegetasi pesisir disusun oleh beberapa jenis bakau seperti Rhizopora sp, Bruguiera sp, Zvicenia sp, dll. Serta beberapa bakau ikutan dan vegetasi pesisir lain seperti gabusan, cemara, ketapang, waru laut dan sebagainya.

Jenis fauna darat
menjangan (Muntiacus Muntjak)
kera ekor panjang (macaca fascicularis)
ular edor (akistrodon rhodostorna)
landak (Hystrix brachra)
biawak (Varanus salvator)
trenggiling (Manis javanica)
Rase dan berbagai jenis Ular.

Jenis Unggas/Burung
Trucukan
Betet
raja udang
etang taut burik
alap-alap
burung khas Karimunjawa, yaitu
trucuk Pycnonotus goiaviar ras karimuciensis
betet Psittacula alexandria ras dommermani
punai leher merah Treron vernans ras Karimuniesnis
cinenen kelabu Orthonomus Sepium ras pattiolatus
burung pergam ketanjar Ducula roscacea


Kamis, 03 Juni 2010

Wonosobo dan DIENG plateu



Dieng adalah dataran tinggi di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Dieng adalah wilayah vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa. Kawah-kawah kepundan banyak dijumpai di sana. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000m di atas permukaan laut. Suhu di Dieng sejuk mendekati dingin, berkisar 15—20 °C di siang hari dan 10 °C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara terkadang dapat mencapai 0 °C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.



Secara administrasi, Dieng mencakup Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Hingga tahun 1990-an wilayah ini tidak terjangkau listrik dan merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah.

Geologi

Dataran tinggi Dieng (DTD) adalah dataran dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya, seperti Yellowstone ataupun Dataran Tinggi Tengger. Sesungguhnya ia adalah kaldera dengan gunung-gunung di sekitarnya sebagai tepinya. Terdapat banyak kawah sebagai tempat keluarnya gas, uap air dan berbagai material vulkanik lainnya. Keadaan ini sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni wilayah itu, terbukti dengan adanya bencana letusan gas Kawah Sinila 1979. Tidak hanya gas beracun, tetapi juga dapat dimungkinkan terjadi gempa bumi, letusan lumpur, tanah longsor dan banjir.

Selain kawah, terdapat pula danau-danau vulkanik yang berisi air bercampur belerang sehingga memiliki warna khas kuning kehijauan.

Secara biologi, aktivitas vulkanik di Dieng menarik karena ditemukan di air-air panas di dekat kawah beberapa spesies bakteri termofilik ("suka panas") yang dapat dipakai untuk menyingkap kehidupan awal di bumi.

Kawah-kawah & telaga






Berikut adalah kawah-kawah di DTD:

  • Candradimuka
  • Sibanteng
  • Siglagah
  • Sikendang, berpotensi gas beracun
  • Sikidang
  • Sileri
  • Sinila, berpotensi gas beracun
  • Timbang, berpotensi gas beracun
  • Kawah Sibanteng

    Sibanteng terletak di Desa Dieng Kulon. Kawah ini pernah meletus freatik dua pada bulan Januari 2009 (15/1)[1], menyebabkan kawasan wisata Dieng harus ditutup beberapa hari untuk mengantisipasi terjadinya bencana keracunan gas. Letusan lumpurnya terdengar hingga 2km, merusak hutan milik Perhutani di sekitarnya, dan menyebabkan longsor yang membendung Kali Putih, anak Sungai Serayu.

    Sebelumnya Kawah Sibanteng meletus pada bulan Juli 2003.

    Kawah Sikidang

    Kawah Sikidang adalah kawah di DTD yang paling populer dikunjungi wisatawan karena paling mudah dicapai. Kawah ini terkenal karena lubang keluarnya gas selalu berpindah-pindah di dalam suatu kawasan luas.

    Kawah Sileri

    Sileri adalah kawah yang paling aktif dan pernah meletus beberapa kali (catatan yang ada 1944, 1964, 1984, dan Juli 2003). Pada aktivitas freatik terakhir (26 September 2009) muncul tiga katup kawah yang baru disertai dengan pancaran material setinggi 200 meter.[2]

    Kawah Sinila

    Sinila terletak di Desa Dieng Wetan. Kawah Sinila pernah meletus pada pagi hari tahun 1979,[3] tepatnya 20 Februari 1979. Gempa yang ditimbulkan membuat warga berlarian ke luar rumah, namun kemudian terperangkap gas yang keluar dari Kawah Timbang akibat terpicu letusan Sinila.[4] Sejumlah warga (149 jiwa) dan ternak tewas keracunan gas karbondioksida yang terlepas dan menyebar ke wilayah pemukiman.

    Puncak-puncak

  • Gunung Prahu (2.565 m)
  • Gunung Pakuwaja (2.395 m)
  • Gunung Sikunir (2.263 m), tempat wisata, dekat Sembungan

Danau vulkanik

  • Telaga Warna, obyek wisata dengan tempat persemadian di dekatnya
  • Telaga Cebon, dekat desa wisata Sembungan
  • Telaga Merdada
  • Telaga Pengilon
  • Telaga Dringo
  • Telaga Nila
  • Sejarah

    Obyek wisata

    Kompleks Candi Arjuna, Dieng

    Beberapa peninggalan budaya dan alam telah dijadikan sebagai obyek wisata dan dikelola bersama oleh dua kabupaten, yaitu Banjarnegara dan Wonosobo. Berikut beberapa obyek wisata di Dieng.

  • Telaga: Telaga Warna, sebuah telaga yang sering memunculkan nuansa warna merah, hijau, biru, putih, dan lembayung, Telaga Pengilon, Telaga Merdada.
  • Kawah: Sikidang, Sileri, Sinila (meletus dan mengeluarkan gas beracun pada tahun 1979 dengan korban 149 jiwa), Kawah Candradimuka.
  • Kompleks candi-candi Hindu yang dibangun pada abad ke-7, antara lain: Candi Gatotkaca, Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Sembadra, Candi Srikandi, Candi Setyaki, Gangsiran Aswatama, dan Candi Dwarawati.
  • Gua: Gua Semar, Gua Jaran, Gua Sumur. Terletak di antara Telaga Warna dan Telaga Pengilon, sering digunakan sebagai tempat olah spiritual.
  • Sumur Jalatunda.
  • Dieng Volcanic Theater, teater untuk melihat film tentang kegunungapian di Dieng.
  • Museum Dieng Kailasa, menyimpan artefak dan memberikan informasi tentang alam (geologi, flora-fauna), masyarakat Dieng (keseharian, pertanian, kepercayaan, kesenian) serta warisan arkeologi dari Dieng. Memiliki teater untuk melihat film (saat ini tentang arkeologi Dieng), panggung terbuka di atas atap museum, serta restoran.
  • Mata air Sungai Serayu, sering disebut dengan Tuk Bima Lukar (Tuk = mata air).
  • salam petualang

Senin, 17 Mei 2010

spesies baru yang ditemukan di pegunungan FOJA irian jaya






















1.PERGAM/MERPATI RAJA
            Ekspedisi Conservation International, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, The National Geographic Society, dan Smithsonian Institution di Papua pada akhir 2008 menemukan sejumlah spesies baru. Penemuan spesies, seperti kupu-kupu hitam dan putih atau Ideopsis fojona, katak berhidung panjang atau Litoria sp nov, serta pergam kaisar atau Dacula sp nov, membuktikan tingginya keanekaragaman hayati Papua.

Penelitian bertajuk "Conservation International's Rapid Assessment Program (RAP)" itu berlangsung di salah satu lokasi paling terpencil di Suaka Margasatwa Mamberamo-Foja. Suaka margasatwa seluas 2 juta hektar di Kabupaten Mamberamo Raya dan Kabupaten Sarmi, Papua, itu disebut-sebut sebagai generator spesies karena lingkungannya yang terisolasi.

Penelitian RAP dilakukan di kawasan Desa Kwerba hingga ke lereng pegunungan yang sulit dijangkau di ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut dalam hutan tropis yang lebat.

Selain menemukan kupu-kupu hitam-putih, katak berhidung panjang, dan pergam (merpati) kaisar, RAP juga menemukan bukti foto dan spesimen kelelawar kembang baru (Syconycteris sp nov), tikus pohon kecil (Pogonomys sp nov), semak belukar berbunga (Ardisia hymenandroides), dan walabi kecil (Dorcopsulus sp nov)

Ketua Tim Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Hari Sutrisno menjelaskan, penemuan berbagai spesies itu menjadi prestasi tersendiri bagi para peneliti Indonesia.

"Salah satu peneliti kupu-kupu dari LIPI, Peggie Djunijanti, berperan penting dalam mendeskripsikan kupu-kupu hitam-putih (Ideopsis fojona) yang ditemukannya bersama peneliti D Vane Wright dan Henk van Mastrigt. Peggie dan kedua peneliti itu bersama-sama menjadi pendeskripsi resmi kupu-kupu itu. Berkat kontribusi peneliti Indonesia, spesimen spesies baru lainnya juga akan menjadi tambahan koleksi spesimen Herbarium Bogor dan Museum Zoology Bogor," kata Hari.

Ornitologis Neville Kemp yang berhasil mendeskripsikan pergam kaisar (Dacula sp nov) menjelaskan, penemuan itu melalui proses panjang yang direncanakan sejak awal 1990. Kemp menyatakan, beberapa spesies yang diumumkan kali ini sudah diketahui keberadaannya sejak RAP 2005.

"Namun, spesimen beberapa spesies baru ditemukan pada RAP 2008. Ada juga spesies yang keberadaannya terdokumentasi pada RAP 2008 dan spesimennya langsung didapatkan. Tim harus memeriksa semua spesimen koleksi berbagai herbarium dan museum zoologi di dunia. Setelah dipastikan tidak ada spesimen yang sama, barulah bisa disimpulkan spesies yang ditemukan itu spesies baru," kata Kemp

2.KATAK 'pinokio'

             Sebuah ekspedisi ilmiah menemukan sejumlah spesies baru di Pegunungan Foja, di Pulau Guinea Baru, Provinsi Papua. Salah satunya jenis katak baru yang pantas disebut katak Pinokio karena memiliki bagian tubuh memanjang di mukanya.

Spesies baru itu yakni katak (Litoria sp nov) yang diamati memiliki benjolan panjang pada hidung seperti pinokio yang menunjuk ke atas bila ada ajakan dari jenis jantan serta mengempis dan mengarah ke bawah bila aktivitasnya berkurang. Katak ini ditemukan herpetologis, Paulus Oliver, secara kebetulan.

Kepala Komunikasi Conservation International (CI) Elshinta S Marsden di Jakarta, Senin (17/5/2010) malam, mengatakan, katak tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak spesies baru yang ditemukan selama Conservation International’s Rapid Assessment Program (RAP) pada tahun 2008. Ekspedisi ini merupakan kolaborasi ilmuwan dari dalam dan luar negeri, termasuk para peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Selain katak pinokio, spesies baru yang ditemukan lainnya, antara lain, tikus besar berbulu, tokek bermata kuning berjari bengkok, merpati kaisar, walabi kerdil (Dorcopsulus sp nov) anggota kanguru terkecil di dunia, serta seekor kanguru pohon berjubah emas yang sudah sangat langka penampakannya, dan sangat terancam keberadaannya karena perburuan dari bagian wilayah Guinea Baru lainnya.

Kejutan terbesar dari ekspedisi itu datang ketika seorang ornitologis, Neville Kemp, melihat sepasang merpati kaisar yang baru ditemukan (Ducula sp nov) dengan bulu-bulu yang terlihat berkarat, agak putih, dan abu-abu. Temuan lainnya yang direkam selama survei RAP itu, antara lain, kelelawar kembang baru (Syconycteris sp nov) yang memakan sari bunga dari hutan hujan, seekor tikus pohon kecil (Pogonomys sp nov), seekor kupu-kupu hitam dan putih (Ideopsis fojana) yang memiliki hubungan dengan jenis kupu-kupu raja pada umumnya, dan semak belukar berbunga yang baru (Ardisia hymenandroides).

"Untuk menentukan temuan tersebut betul-betul terbaru perlu diteliti dulu famili dan habitatnya. Hal itu butuh waktu bertahun-tahun," katanya. Kepastian penemuan itu diungkapkan dalam rangka menandai peringatan Hari Keanekaan Ragam Hayati se-Dunia (International Day for Biological Diversity) pada 22 Mei.

Pada ekspedisi RAP yang didukung The National Geographic Society dan Smithsonian Institution ini, para ahli biologi bertahan menghadapi hujan badai yang lebat dan banjir bandang yang mengancam sambil terus melacak spesies-spesies, mulai dari bukit rendah di Desa Kwerba sampai ke puncaknya pada kisaran 2.200 meter di atas permukaan laut.

Disebutkan juga, Wakil Presiden Regional CI Indonesia Jatna Supriatna, PhD, mengatakan, temuan ini dapat menunjukkan berapa banyak bentuk spesies unik yang hanya hidup di hutan-hutan pegunungan Papua, dan menyadarkan dunia betapa hutan-hutan ini harus dilestarikan.

"Para peneliti LIPI merasa sangat bersyukur turut terlibat dalam pengungkapan keanekaan ragam hayati kawasan Pegunungan Foja, Mamberamo. Adanya kerja sama penelitian ini jelas mendukung program-program konservasi pada kawasan yang memiliki biodiversitas sangat tinggi dan termasuk dalam daftar perlindungan undang-undang RI," kata Ketua Tim Peneliti dari Pusat Penelitian Biologi LIPI Dr Hari Sutrisno.

Sedangkan Gubernur Papua Barnabas Suebu mengingatkan, pihaknya sepakat dan sangat mendukung agar wilayah-wilayah ber-biodiversitas sangat tinggi di Provinsi Papua dipertahankan karena banyak spesies endemik di wilayah ini yang masih terisolasi dan tidak terdapat di belahan dunia lain.

3.WALLABY

Menemukan spesies hewan baru selalu menjadi saat istimewa bagi para peneliti. Apalagi bila hewan-hewan itu datang sendiri ke kemah mereka seolah ingin memperkenalkan diri. Itulah yang dialami tim peneliti yang berkemah di Pegunungan Foja, Papua, saat herpetologis Paul Oliver mendapati seekor katak bertengger di karung beras yang mereka bawa.Saat diamati lebih dekat, hewan mungil itu ternyata sejenis katak berhidung panjang yang belum dikenal. Para peneliti pun menjulukinya pinokio. Saat katak itu bersuara, hidungnya akan tegak ke depan, dan melengkung turun bila sang katak berhenti bernyanyi.

"Kami sedang duduk makan siang saat Oliver melihat ke bawah dan menemukan katak kecil di karung beras. Ia pun berusaha menangkapnya," ujar ornithologis Smithsonian, Chris Milensky. "Dan bukan hanya itu, seperti layaknya herpetologis yang cekatan, Oliver juga berhasil menangkap tokek bermata kuning yang baru dikenal."

Cerita tentang penemuan si hidung panjang dan tokek bermata kuning baru permulaan. Ternyata Pegunungan Foja di Papua menyimpan banyak hewan dan tumbuhan baru yang selama ini tidak dikenal dunia ilmu pengetahuan. Tak heran bila para peneliti dari Conservation International, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, The National Geographic Society, dan Smithsonian Institution kemudian menemukan spesies-spesies lain.

Spesies baru yang ditemukan lainnya pada ekspedisi di akhir 2008 itu antara lain tikus besar berbulu, tokek bermata kuning berjari bengkok, merpati kaisar, walabi kerdil (Dorcopsulus sp nov) anggota kanguru terkecil di dunia, serta seekor kanguru pohon berjubah emas yang sudah sangat langka dan sangat terancam keberadaannya karena perburuan dari bagian wilayah New Guinea lainnya.

Kejutan terbesar dari ekspedisi itu datang ketika seorang ornitologis, Neville Kemp, melihat sepasang merpati kaisar yang baru ditemukan (Ducula sp nov) dengan bulu-bulu tiga warna, yakni merah seperti berkarat, agak putih, dan abu-abu. Temuan lainnya yang direkam selama survei itu, antara lain, kelelawar kembang baru (Syconycteris sp nov) yang memakan sari bunga dari hutan hujan, seekor tikus pohon kecil (Pogonomys sp nov), seekor kupu-kupu hitam dan putih (Ideopsis fojana) yang memiliki hubungan dengan jenis kupu-kupu raja pada umumnya, dan semak belukar berbunga yang baru (Ardisia hymenandroides).

Hal yang menarik perhatian adalah kanguru pohon berjubah emas. Berbeda dengan bayangan banyak orang bahwa kanguru hanya hidup di dataran Australia, kanguru jubah emas ini telah beradaptasi dengan kehidupan hutan. "Ia bisa meloncat ke pohon dan bertengger di sana," ujar Kristofer M Helgen, kurator mamalia di Smithsonian's National Museum of Natural History. "Namun, saat berada di darat, ia melompat seperti kanguru lainnya."

Yang jelas temuan-temuan ini memberi harapan bagi para peneliti. "Saat hewan-hewan dan tanaman di seluruh dunia mengalami kepunahan dalam laju yang belum pernah terjadi selama jutaan tahun sebelumnya, penemuan jenis-jenis kehidupan baru ini sungguh menjadi berita yang menggembirakan," ujar Bruce Beehler, peneliti senior di CI. "Tempat seperti Foja memberi harapan masa depan lebih baik bagi kita dan menunjukkan bahwa belum terlambat untuk menghentikan krisis kepunahan di Bumi."

KE INDAHAN SANDIWARA DUNIA?



neng nong neng gong.......wara wiri ngaler-ngidol,aku memulai sebuah kehidupan dimana aku terlahir di suatu tempat yang dahulu kala begitu hijau alam nya..ikan ikan menari bersama arus sungai,,burung berkicau seakan menuntunku untuk berjalan menggapainya.sesaat itu aku mengajak kakek ku jalan jalan di pinggir sawah yang meluas,dipagi hari yang menyenangkan.walaupun aku tak mengerti sebenarnya yang terjadi,karna umurku masih 5 tahun.yang terpikirkan hanyalah genggaman kakek ku dan suara alam.waktu itu aku melihat ada binatang di air,binatang itu panjang dan warna warni seperti pelangi dikala hujan reda.sesaat aku beberapa langkah aku mendekatinya,ketika itu kakek ku langsung menggendongku,seakan akan ada sesuatu yang membahayakan mau menyerangku.aku hanya menangis karena keinginanku tak dapan terkabul,aku pengen menyentuhnya,karena keindahan batik tubuhnya.tak henti henti aku menangis,aku terus merangkak mau menyentuhnya.tapi tetap tak dibolehkan oleh kakeku,kakek bilang itu UlAR namanya.tapi aku tak peduli,karena tidak tau apa itu sesungguh nya ULAR??aku hanya menangis saat kakek membawa ku pulang kerumah.terus nenek ku menyambut ku dengan nyanyian jawa,aku lupa nyanyian itu,tapi itu membuatku terhenti dalam tangisanku,,tertawa dan senyum lepas.dia mencium keningku.lepas senyum ku berlanjut karena ayah dan ibuku membawakan mainan dan makanan yang kusuka ( growol dan gatot ).lalu aku disuruh maen ma teman temanku.disana aku dah ditunggu,lari tanpa rasa capek.diajak maen layang layang.walaupun hujan kecil menghampiri kami,tapi itu adalah bagian yang menyenangkan juga.karena selesai hujan reda,disudut timur ada setengah lingkaran yang warna wari dengan kilauan sang matahari.ada pegunungan yang mendampingi,menambah keindahan waktu itu.banyak burung 'blekok' yang sangat banyak membentuk huruf V.aku mau mengambil salah satu burung itu,aku terus berlari dengan pandangan keatas.dan suara seruan teman teman yang menyemangatiku untuk terus berlari,gak taunya didepan ada sungai yang menungguku.....bbbbbbuuuuuyyuuurrrrrrrrrrrrrrrrrr aku terjun bebas.dingin kurasakan,aku terdiam,tetapi tawa dan suara bbyyyuuurrr terus berdatangan.ternyata teman2 menyusulku dengan wajah yang berseri.................dewasa pun menjemputku dengan cepatnya.keaadaan berubah total,saat berdiri di pinggir sawah hany panas yang kurasakan,debu yang bertebaran.seakan akan mau menghujam mataku.sungai tak bernyanyi,hampa tanpa kehadiran ikan ikan kecil.warna air sungai berubah seiring dengan bertambahnya umurku.langit sangat pucat,burung burung mati suri.sesaat aku terhenti dan berfikir...kenapa ini terjadi?apa ada yang salah?sapa yang salah?ternyata jawaban nya ada dalam HATI kita semua...i love green village.I hope with you.become for me..!